Skip to main content

وَالْوَزْنُ يَوْمَىِٕذِ ِۨالْحَقُّۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهٗ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ   ( ٱلْأَعْرَاف: ٨ )

wal-waznu
وَٱلْوَزْنُ
dan timbangan
yawma-idhin
يَوْمَئِذٍ
pada hari itu
l-ḥaqu
ٱلْحَقُّۚ
kebenaran
faman
فَمَن
maka siapa
thaqulat
ثَقُلَتْ
berat
mawāzīnuhu
مَوَٰزِينُهُۥ
timbangannya
fa-ulāika
فَأُو۟لَٰٓئِكَ
maka mereka itu
humu
هُمُ
mereka
l-muf'liḥūna
ٱلْمُفْلِحُونَ
orang-orang yang beruntung

“Wa Al-Waznu Yawma'idhin Al-Ĥaqqu Faman Thaqulat Mawāzīnuhu Fa'ūlā'ika Hum Al-Mufliĥūna.” (al-ʾAʿrāf/7:8)

Artinya:

“Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung,” (QS. Al-A'raf: 8)

Timbangan yang tidak kita ketahui secara hakiki bagaimana bentuk dan sifatnya, pada hari itu menjadi ukuran kebenaran. Ihwal timbangan ini merupakan perkara gaib; kita wajib mengimaninya dan hanya Allah yang tahu hakikatnya. Maka barang siapa berat timbangan kebaikan-nya karena banyak melakukan kebaikan, mereka itulah orang yang beruntung. Mereka akan masuk surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.