Skip to main content

وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ   ( ٱلْقِيَامَة: ٢ )

walā
وَلَآ
dan benar-benar
uq'simu
أُقْسِمُ
aku bersumpah
bil-nafsi
بِٱلنَّفْسِ
dengan jiwa
l-lawāmati
ٱللَّوَّامَةِ
mencela/menyesali

“Wa Lā 'Uqsimu Bin-Nafsi Al-Lawwāmati.” (al-Q̈iyamah/75:2)

Artinya:

“dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah: 2)

1-2. Akhir surah al-Muddasir menguraikan tentang Kiamat serta betapa mengerikannya peristiwa itu, namun kaum pendurhaka mendustakannya. Segala argumen sudah dipaparkan, kalau mereka tetap tidak beriman, maka ayat ini menunjukkan Allah, tidak akan meladeni mereka lagi. Aku bersumpah dengan kepastian hari Kiamat karena semuanya sudah jelas, dan Aku juga bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri. Sungguh manusia pasti akan dibangkitkan.3-4. Atas penegasan tentang kepastian hari Kiamat mestinya manusia percaya, tetapi banyak yang ingkar. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang-belulangnya yang telah berserakan setelah kematiannya? Jangankan hanya mengumpulkan kembali tulang-belulang, bahkan Kami mampu menyusun kembali jari jemarinya dengan sempurna.