Skip to main content

اِرْجِعُوْٓا اِلٰٓى اَبِيْكُمْ فَقُوْلُوْا يٰٓاَبَانَآ اِنَّ ابْنَكَ سَرَقَۚ وَمَا شَهِدْنَآ اِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حٰفِظِيْنَ  ( يُوسُف: ٨١ )

ir'jiʿū
ٱرْجِعُوٓا۟
kembalilah
ilā
إِلَىٰٓ
kepada
abīkum
أَبِيكُمْ
ayahmu
faqūlū
فَقُولُوا۟
dan katakan
yāabānā
يَٰٓأَبَانَآ
wahai ayah kami
inna
إِنَّ
sesungguhnya
ib'naka
ٱبْنَكَ
anakmu
saraqa
سَرَقَ
telah mencuri
wamā
وَمَا
dan tidak
shahid'nā
شَهِدْنَآ
kami menyaksikan
illā
إِلَّا
selain/kecuali
bimā
بِمَا
dengan apa
ʿalim'nā
عَلِمْنَا
kami ketahui
wamā
وَمَا
dan tidak
kunnā
كُنَّا
kami
lil'ghaybi
لِلْغَيْبِ
kepada yang gaib
ḥāfiẓīna
حَٰفِظِينَ
orang-orang yang menjaga

“Arji`ū 'Ilaá 'Abīkum Faqūlū Yā 'Abānā 'Inna Abnaka Saraqa Wa Mā Shahidnā 'Illā Bimā `Alimnā Wa Mā Kunnā Lilghaybi Ĥāfižīna.” (Yūsuf/12:81)

Artinya:

“Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah, “Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui dan kami tidak mengetahui apa yang di balik itu.” (QS. Yusuf: 81)

Karena tidak lagi ada peluang bagi anak-anak Nabi Yakub untuk mengubah keputusan Al-Aziz, mereka menyerah. Mereka dengan berat hati meninggalkan Bunyamin. Saudara tertua mereka, karena merasa gagal menjaga Bunyamin, pun tetap tinggal di Mesir. Ia berpesan kepada mereka, "Kembalilah kepada ayahmu dan katakanlah kepadanya dengan lembut, 'Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu, Bunyamin, telah dituduh mencuri piala raja, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui secara lahir, dan kami tidak mengetahui apa yang di balik itu.