Skip to main content

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ  ( ٱلْبَقَرَة: ١١ )

wa-idhā
وَإِذَا
dan apabila
qīla
قِيلَ
ketika dikatakan
lahum
لَهُمْ
kepada mereka
لَا
jangan
tuf'sidū
تُفْسِدُوا۟
kalian membuat kerusakan
فِى
di
l-arḍi
ٱلْأَرْضِ
bumi
qālū
قَالُوٓا۟
mereka berkata
innamā
إِنَّمَا
sesungguhnya hanyalah
naḥnu
نَحْنُ
kami
muṣ'liḥūna
مُصْلِحُونَ
orang-orang yang melakukan perbaikan

“Wa 'Idhā Qīla Lahum Lā Tufsidū Fī Al-'Arđi Qālū 'Innamā Naĥnu Muşliĥūna.” (al-Baq̈arah/2:11)

Artinya:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.”” (QS. Al-Baqarah: 11)

Dan apabila dikatakan dan dinasihatkan kepada mereka, Janganlah berbuat kerusakan di bumi, dengan melanggar nilai-nilai yang ditetapkan agama, menghalangi orang dari jalan Allah, menyebar fitnah, dan memicu konflik, mereka justru mengklaim bahwa diri mereka bersih dari perusakan dan tidak bermaksud melakukan kerusakan. Mereka menjawab, Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan. Itu semua akibat rasa bangga diri mereka yang berlebihan. Begitulah perilaku setiap perusak yang tertipu oleh dirinya: selalu merasa kerusakan yang dilakukannya sebagai kebaikan. .