Skip to main content

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهٖۚ وَاِنَّا لَهٗ كَاتِبُوْنَ   ( الأنبياء: ٩٤ )

faman
فَمَن
maka barangsiapa
yaʿmal
يَعْمَلْ
mengerjakan
mina
مِنَ
dari
l-ṣāliḥāti
ٱلصَّٰلِحَٰتِ
kebaikan
wahuwa
وَهُوَ
dan dia
mu'minun
مُؤْمِنٌ
beriman
falā
فَلَا
maka tidak ada
kuf'rāna
كُفْرَانَ
pengingkaran
lisaʿyihi
لِسَعْيِهِۦ
bagi usahanya/amalnya
wa-innā
وَإِنَّا
dan sesungguhnya Kami
lahu
لَهُۥ
baginya/untuknya
kātibūna
كَٰتِبُونَ
menuliskan

Faman Ya`mal Mina Aş-Şāliĥāti Wa Huwa Mu'uminun Falā Kufrāna Lisa`yihi Wa 'Innā Lahu Kātibūna. (al-ʾAnbiyāʾ 21:94)

Artinya:

Barangsiapa mengerjakan kebajikan, dan dia beriman, maka usahanya tidak akan diingkari (disia-siakan), dan sungguh, Kamilah yang mencatat untuknya. (QS. [21] Al-Anbiya' : 94)

1 Tafsir Ringkas Kemenag

Manusia dalam mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah sangat tergantung kepada pilihan hidupnya di dunia. Barang siapa mengerjakan kebajikan kepada Allah, sesama manusia, dan alam, dan dia melakukan kebajikan itu sebagai orang beriman, atas dasar keimanannya yang mantap, maka usahanya sekecil apa pun juga dalam mewujudkan kebajikan itu tidak akan diingkari, disia-siakan hingga terbuang percuma, tetapi akan tetap tersimpan; dan sungguh, Kamilah yang mencatat perbuatan baik itu untuknya. Demikian juga, perbuatan buruk sekecil apa pun tercatat dengan akurat dan akan diperlihatkan kepada tiap-tiap manusia dengan objektif.