Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
وَمَا
dan tidak
جَعَلَهُ
menjadikannya
ٱللَّهُ
Allah
إِلَّا
kecuali
بُشْرَىٰ
kabar gembira
لَكُمْ
bagi kalian
وَلِتَطْمَئِنَّ
dan untuk menentramkan
قُلُوبُكُم
hatimu
بِهِۦۗ
dengannya
وَمَا
dan tidak
ٱلنَّصْرُ
pertolongan
إِلَّا
melainkan
مِنْ
dari
عِندِ
sisi
ٱللَّهِ
Allah
ٱلْعَزِيزِ
Maha Perkasa
ٱلْحَكِيمِ
Maha Bijaksana

Wa Mā Ja`alahu Allāhu 'Illā Bushraá Lakum Wa Litaţma'inna Qulūbukum Bihi Wa Mā An-Naşru 'Illā Min `Indi Allāhi Al-`Azīzi Al-Ĥakīmi.

Tafsir Bahasa:

Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala-bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.

(126) Apa pun yang terjadi sebenarnya kemenangan itu hanyalah datang dari Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana. Jadi kalau kaum Muslimin benar-benar mengamalkan petunjuk Allah dan rasul-Nya dan benar-benar percaya dan yakin akan mendapat kemenangan dan tetap bersifat sabar dan takwa dengan penuh tawakal tentulah Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka. Tetapi pada perang Uhud, tidak terdapat kebulatan tekad dan tidak terdapat kepatuhan kepada perintah, kecuali pada permulaan pertempuran. Hal ini terbukti dengan timbulnya keragu-raguan dalam hati dua golongan kaum Muslimin dan turunnya pasukan pemanah yang diperintahkan agar tidak meninggalkan tempat mereka. Inilah sebabnya mengapa kaum Muslimin sangat terpukul dalam Perang Uhud.