Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
فَلَا
maka
وَرَبِّكَ
dan/demi Tuhanmu
لَا
tidak
يُؤْمِنُونَ
beriman
حَتَّىٰ
hingga
يُحَكِّمُوكَ
mereka menjadikan kamu hakim
فِيمَا
terhadap apa/perkara
شَجَرَ
perselisihan
بَيْنَهُمْ
diantara mereka
ثُمَّ
kemudian
لَا
tidak
يَجِدُوا۟
mereka mendapatkan
فِىٓ
dalam
أَنفُسِهِمْ
diri/hati mereka
حَرَجًا
keberatan
مِّمَّا
terhadap apa
قَضَيْتَ
kamu putuskan
وَيُسَلِّمُوا۟
dan mereka menerima
تَسْلِيمًا
penerima sepenuhnya

Falā Wa Rabbika Lā Yu'uminūna Ĥattaá Yuĥakkimūka Fīmā Shajara Baynahum Thumma Lā Yajidū Fī 'Anfusihim Ĥarajāan Mimmā Qađayta Wa Yusallimū Taslīmāan.

Tafsir Bahasa:

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

(65) Ayat ini menjelaskan dengan sumpah bahwa walaupun ada orang yang mengaku beriman, tetapi pada hakikatnya tidaklah mereka beriman selama mereka tidak mau bertahkim kepada Rasul. Rasulullah saw pernah mengambil keputusan dalam perselisihan yang terjadi di antara mereka, seperti yang terjadi pada orang-orang munafik. Atau mereka bertahkim kepada Rasul tetapi kalau putusannya tidak sesuai dengan keinginan mereka lalu merasa keberatan dan tidak senang atas putusan itu, seperti putusan Nabi untuk az-Zubair bin Awwam ketika seorang laki-laki dari kaum Ansar yang tersebut di atas datang dan bertahkim kepada Rasulullah. Jadi orang yang benar-benar beriman haruslah mau bertahkim kepada Rasulullah dan menerima putusannya dengan sepenuh hati tanpa merasa curiga dan keberatan. Memang putusan seorang hakim baik ia seorang rasul maupun bukan, haruslah berdasarkan kenyataan dan bukti-bukti yang cukup.