Skip to main content

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِشِمَالِهٖ ەۙ فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْۚ  ( ٱلْحَاقَّة: ٢٥ )

wa-ammā
وَأَمَّا
dan adapun
man
مَنْ
orang yang
ūtiya
أُوتِىَ
diberikan
kitābahu
كِتَٰبَهُۥ
kitabnya
bishimālihi
بِشِمَالِهِۦ
di tangan kirinya
fayaqūlu
فَيَقُولُ
maka dia berkata
yālaytanī
يَٰلَيْتَنِى
Alangkah baiknya
lam
لَمْ
tidak
ūta
أُوتَ
diberikan aku
kitābiyah
كِتَٰبِيَهْ
kitab

“Wa 'Ammā Man 'Ūtiya Kitābahu Bishimālihi Fayaqūlu Yā Laytanī Lam 'Ūta Kitābīh.” (al-Ḥāq̈q̈ah/69:25)

Artinya:

“Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku.” (QS. Al-Haqqah: 25)

Setelah uraian tentang balasan yang diterima oleh orang-orang yang taat kini giliran diuraikan keadaan orang-orang yang durhaka. Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata dengan penuh kesedihan dan penyesalan, “Alangkah baiknya jika kitab catatan amalku ini tidak diberikan kepadaku.