Ali 'Imran Ayat 158
وَلَىِٕنْ مُّتُّمْ اَوْ قُتِلْتُمْ لَاِلَى اللّٰهِ تُحْشَرُوْنَ ( آل عمران: ١٥٨ )
Wa La'in Muttum 'Aw Qutiltum La'ilaá Allāhi Tuĥsharūna. (ʾĀl ʿImrān 3:158)
Artinya:
Dan sungguh, sekiranya kamu mati atau gugur, pastilah kepada Allah kamu dikumpulkan. (QS. [3] Ali 'Imran : 158)
1 Tafsir Ringkas Kemenag
Dan sungguh, sekiranya kamu mati di rumah atau di mana pun, atau gugur dalam peperangan, pastilah kepada Allah kamu dikumpulkan untuk diberi balasan sesuai amal yang kamu kerjakan.
2 Tafsir Lengkap Kemenag
Semua orang akan mati atau gugur dengan sebab apa saja, baik karena meninggal di dalam peperangan dalam bepergian atau di tempatnya sendiri. Mereka pasti akan dikembalikan kepada Allah dan akan diperhitungkan segala amal perbuatannya di akhirat nanti. Kalau jahat dibalas dengan siksa neraka dan kalau baik dibalas dengan masuk surga.
Oleh karena itu orang mukmin hendaklah memilih dan menempuh jalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, agar memperoleh ampunan dan rahmat-Nya. Untuk itu, janganlah seorang Muslim merasa enggan berjihad di jalan Allah, untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
3 Tafsir Ibnu Katsir
Allah Swt. memberitakan bahwa semua orang yang mati atau terbunuh, tempat kembali dan kepulangannya hanyalah kepada Allah Swt. Lalu Allah akan memberikan balasan kepadanya sesuai dengan amal perbuatannya. Jika amal perbuatannya baik, maka balasannya baik pula, dan jika amal perbuatannya buruk, maka balasannya buruk pula. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
Dan sungguh jika kalian meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kalian dikumpulkan.
4 Tafsir Al-Jalalain
(Sungguh sekiranya) lam berarti sumpah (kamu meninggal) dibaca muttum atau mittum (atau terbunuh) dalam peperangan atau lainnya (maka hanya kepada Allahlah) dan bukan kepada selain-Nya (kamu akan dihimpun) di akhirat di mana amal perbuatanmu akan dibalas-Nya.
5 Tafsir Quraish Shihab (Al-Misbah)
Juga, jika kalian mati atau terbunuh pada saat berjihad, sungguh amalan-amalan kalian tidak akan hilang. Kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah, kemudian diberi pahala oleh-Nya atas jihad dan keikhlasan kalian.
6 Tafsir as-Saadi
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang, 'Kalau mereka tetap bersama-sama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.' Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. Dan sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmatNya lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentu-lah (hanya) kepada Allah saja kamu dikumpulkan." (Ali Imran: 156-158).
(156) Allah تعالى melarang hamba-hambaNya yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Rabb mereka, tidak pula kepada Qadha` dan QadarNya, dari ka-langan munafik dan selainnya. Allah melarang mereka dari me-nyerupai orang-orang tersebut dalam segala hal, dan khususnya pada perkara ini, di mana mereka berkata kepada saudara-saudara mereka seagama atau sedarah, ﴾ إِذَا ضَرَبُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi," maksudnya, bepergian untuk berdagang, ﴾ أَوۡ كَانُواْ غُزّٗى ﴿ "atau mereka berperang," maksudnya, mela-kukan perjalanan perang, kemudian di antara mereka ada yang terbunuh atau mati, maka mereka menentang Qadar dan berkata, ﴾ لَّوۡ كَانُواْ عِندَنَا مَا مَاتُواْ وَمَا قُتِلُواْ ﴿ "Kalau mereka tetap bersama-sama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Ini merupakan dusta dari me-reka, karena Allah تعالى telah berfirman,
﴾ قُل لَّوۡ كُنتُمۡ فِي بُيُوتِكُمۡ لَبَرَزَ ٱلَّذِينَ كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَتۡلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمۡۖ ﴿
"Katakanlah, 'Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh'." (Ali Imran: 154)
Akan tetapi pendustaan ini tidaklah berguna bagi mereka, hanya saja Allah menjadikan perkataan dan keyakinan tersebut sebagai suatu ungkapan penyesalan dalam hati mereka, yang akhirnya justru menambah musibah mereka. Sedangkan kaum Mukminin, mereka mengetahui bahwa itu semua adalah ketentuan Allah, sehingga mereka meyakininya dan menerimanya lalu Allah memberikan petunjuk bagi hati mereka, meneguhkannya, dan meringankan bagi mereka musibah tersebut.
Allah berfirman menjawab mereka, ﴾ وَٱللَّهُ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۗ ﴿ "Allah meng-hidupkan dan mematikan," maksudnya, Dia-lah yang Esa dalam hal tersebut sehingga suatu tindakan kewaspadaan tidak akan berguna di hadapan takdir. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan," maka Allah akan membalas kalian atas perbuatan dan pendustaan kalian.
(157) Kemudian Allah تعالى mengabarkan bahwa terbunuh di jalanNya atau mati padaNya, bukanlah suatu kekurangan mau-pun sesuatu yang harus dikhawatirkan, namun hal itu adalah suatu perkara yang seharusnya menjadi sesuatu yang diperlombakan oleh orang-orang yang berlomba, karena merupakan sebab yang menghasilkan dan menyampaikan kepada ampunan Allah dan rahmatNya. Dan hal itu adalah lebih baik daripada sesuatu yang dikumpulkan oleh penghuni dunia berupa harta dunia.
(158) Dan bahwa makhluk itu, bila meninggal atau ter-bunuh dengan kondisi apa pun itu, maka sesungguhnya tempat kembali mereka hanyalah kepada Allah dan tempat bersandar mereka hanyalah kepadaNya. Lalu Allah akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, maka ke mana pun pelarian itu, kecuali pasti kepada Allah saja. Dan tidaklah ada tempat berpegang bagi makhluk kecuali dengan berpegang teguh dengan tali agama Allah.