Skip to main content

وَمَنْ يَّكْسِبْ اِثْمًا فَاِنَّمَا يَكْسِبُهٗ عَلٰى نَفْسِهٖ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا   ( ٱلنِّسَاء: ١١١ )

waman
وَمَن
dan barang siapa
yaksib
يَكْسِبْ
mengerjakan
ith'man
إِثْمًا
dosa
fa-innamā
فَإِنَّمَا
maka sesungguhnyalah
yaksibuhu
يَكْسِبُهُۥ
ia mengerjakannya
ʿalā
عَلَىٰ
atas
nafsihi
نَفْسِهِۦۚ
dirinya sendiri
wakāna
وَكَانَ
dan adalah
l-lahu
ٱللَّهُ
Allah
ʿalīman
عَلِيمًا
Maha Mengetahui
ḥakīman
حَكِيمًا
Maha Bijaksana

“Wa Man Yaksib 'Ithmāan Fa'innamā Yaksibuhu `Alaá Nafsihi Wa Kāna Allāhu `Alīmāan Ĥakīmāan.” (an-Nisāʾ/4:111)

Artinya:

“Dan barangsiapa berbuat dosa, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk (kesulitan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijak-sana.” (QS. An-Nisa': 111)

Dan barang siapa yang berbuat dosa, apa pun bentuk dan macam dosa yang dilakukannya, maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk keburukan dirinya sendiri, karena akibat dari perbuatan dosanya itu akan kembali kepada dirinya, dan Allah menjatuhkan sanksi dari perbuatannya itu kepada dirinya, bukan kepada orang lain. Dan ketahuilah bahwa semua sikap, perilaku, dan perbuatan yang kamu dan siapa pun lakukan, termasuk segala macam dosa-dosa, pasti diketahui oleh Allah karena Allah selamanya Maha Mengetahui semua itu, Mahabijaksana memberikan ganjaran, sanksi dan hukuman kepada siapa pun secara wajar dan benar.