Skip to main content

قَالَ لِلْمَلَاِ حَوْلَهٗٓ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ عَلِيْمٌ ۙ   ( ٱلشُّعَرَاء: ٣٤ )

qāla
قَالَ
(Fir'aun) berkata
lil'mala-i
لِلْمَلَإِ
kepada pembesar-pembesar
ḥawlahu
حَوْلَهُۥٓ
di sekelilingnya
inna
إِنَّ
sesungguhnya
hādhā
هَٰذَا
ini
lasāḥirun
لَسَٰحِرٌ
benar-benar ahli sihir
ʿalīmun
عَلِيمٌ
yang pandai

“Qāla Lilmala'i Ĥawlahu 'Inna Hādhā Lasāĥirun `Alīmun.” (aš-Šuʿarāʾ/26:34)

Artinya:

“Dia (Fir‘aun) berkata kepada para pemuka di sekelilingnya, “Sesungguhnya dia (Musa) ini pasti seorang pesihir yang pandai,” (QS. Asy-Syu'ara': 34)

Dia hendak mengusir kamu dari negerimu yang subur makmur ini, di mana kamu hidup enak dan tenang di dalamnya, dengan ilmu sihirnya. Oleh karena itu apakah yang kamu sarankan kepadaku sehingga aku bisa melaksanakannya?” Fir’aun merasa terdesak sehingga meminta pertimbangan dari para pembesarnya. Pengusiran seorang dari negerinya adalah sebuah prahara kehidupan, karena mereka harus meninggalkan apa yang mereka cintai. Fir’aun menggunakan taktik ini agar mereka merasa tersentak dan akhirnya melawan Nabi Musa.