Skip to main content
ARBNDEENIDTRUR
لَوْلَا
mengapa tidak
يَنْهَىٰهُمُ
melarang mereka
ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ
orang-orang alim Yahudi
وَٱلْأَحْبَارُ
dan pendeta-pendeta
عَن
dari
قَوْلِهِمُ
ucapan mereka
ٱلْإِثْمَ
dosa/bohong
وَأَكْلِهِمُ
dan makan mereka
ٱلسُّحْتَۚ
haram
لَبِئْسَ
sungguh amat buruk
مَا
apa
كَانُوا۟
adalah mereka
يَصْنَعُونَ
(mereka) kerjakan

Lawlā Yanhāhum Ar-Rabbānīyūna Wa Al-'Aĥbāru `An Qawlihim Al-'Ithma Wa 'Aklihim As-Suĥta Labi'sa Mā Kānū Yaşna`ūna.

Tafsir Bahasa:

Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.

(63). Ayat ini menyatakan celaan yang maksudnya sebagai berikut; Mengapa orang-orang alim dan pendeta-pendeta Yahudi tidak mau melarang umatnya berbohong dan makan harta yang haram? Ibnu Abbas menceritakan bahwa tidak ada di dalam Al-Qur'an celaan yang lebih keras dari ayat ini terhadap para ulama yang melalaikan tugas mereka dalam menyampaikan dakwah tentang larangan-larangan dan kejahatan-kejahatan. Para ulama tafsir mengatakan bahwa ayat ini bukanlah sekedar menceritakan cercaan Allah kepada para pendeta Yahudi yang tidak menunjuki jalan yang baik bagi orang-orang Yahudi yang berbuat fasik, tetapi yang lebih penting dari itu yang harus kita sadari ialah bahwa orang yahudi melarang para ulama Islam menyampaikan dakwah terutama menganjurkan perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang jelek.