Skip to main content

لَوْلَا يَنْهٰىهُمُ الرَّبَّانِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْاِثْمَ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ  ( ٱلْمَائِدَة: ٦٣ )

lawlā
لَوْلَا
mengapa tidak
yanhāhumu
يَنْهَىٰهُمُ
melarang mereka
l-rabāniyūna
ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ
orang-orang alim Yahudi
wal-aḥbāru
وَٱلْأَحْبَارُ
dan pendeta-pendeta
ʿan
عَن
dari
qawlihimu
قَوْلِهِمُ
ucapan mereka
l-ith'ma
ٱلْإِثْمَ
dosa/bohong
wa-aklihimu
وَأَكْلِهِمُ
dan makan mereka
l-suḥ'ta
ٱلسُّحْتَۚ
haram
labi'sa
لَبِئْسَ
sungguh amat buruk
مَا
apa
kānū
كَانُوا۟
adalah mereka
yaṣnaʿūna
يَصْنَعُونَ
(mereka) kerjakan

“Lawlā Yanhāhum Ar-Rabbānīyūna Wa Al-'Aĥbāru `An Qawlihim Al-'Ithma Wa 'Aklihim As-Suĥta Labi'sa Mā Kānū Yaşna`ūna.” (al-Māʾidah/5:63)

Artinya:

“Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Ma'idah: 63)

Di antara sebab dari perbuatan buruk yang dilakukan orang-orang Yahudi itu adalah karena mereka tidak mendapat peringatan dari pendetanya. Karena itu muncul pertanyaan mengapa para ulama Yahudi dan para pendeta mereka, setelah mengetahui perilaku masyarakat, tidak melarang mereka yang sering mengucapkan perkataan bohong dan terbiasa memakan yang haram? Bila terus dibiarkan, sungguh, hal itu merupakan kebiasaan yang sangat buruk dan apa yang mereka perbuat merupakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah.